Bank Sentral Lemahkan Nilai Mata Uang, Begini Alasannya

Posted on

Percaya tidak percaya, ada kebijakan ekonomi yang mungkin kedengarannya aneh bagi orang awam. Tahukah kalian ada negara yang dengan sengaja melemahkan nilai mata uangnya? Bukankah semakin kuat mata uang artinya semakin bagus, sehingga mereka bisa impor barang dengan harga lebih murah? Tetapi faktanya, memang ada negara yang dengan sengaja melemahkan nilai tukar mata uangnya untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Bagaimana cara dan maksud dari melemahkan nilai tukar mata uang tersebut?

Apa itu Devaluasi

Devaluasi sederhananya adalah kebijakan yang diambil oleh financial institution sentral di sebuah negara untuk membuat nilai tukar mata uang itu melemah terhadap mata uang lain. Contohnya: nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS saat ini adalah 14.500 rupiah. Jika nilai tukarnya menjadi 13.000 rupiah artinya rupiah menguat terhadap dolar AS. Dan itupun berlaku sebaliknya, jika nilai tukar mata uang rupiah menjadi sixteen.000 artinya rupiah melemah terhadap dolar AS. Jika nilai mata uang lemah, berarti barang-barang yang dibeli menggunakan dolar AS itu menjadi lebih mahal. Begitupun dengan hutang negara atau perusahaan dalam bentuk mata uang asing, akan semakin membengkak juga. Lalu apakah hal ini membuat rugi negara tersebut? Pelemahan nilai tukar mata uang ini pernah dilakukan beberapa negara seperti Jepang, China dan Inggris. Kebijakan ini justru membantu perekonomian menjadi lebih baik. Lalu untuk apa suatu negara melemahkan nilai mata uangnya ?

Devaluasi agar Perdagangan Internasional Meningkat

Pada dasarnya semua negara melakukan perdagangan dengan negara lain. Bahkan jika negara tersebut memiliki keunggulan di barang tertentu, pasti akan menawarkannya kepada negara lain. Kegiatan menjual barang komoditas ke luar negeri disebut ekspor dan pelakunya disebut eksportir. Sedangkan membeli dari luar negeri dinamakan impor dan pelakunya disebut importir. Akan sangat baik jika suatu negara melakukan ekspor dalam rangka meningkatkan devisa negara. Ketika sebuah financial institution sentral memutuskan untuk menurunkan nilai tukar mata uangnya, maka ia hendak mendorong ekspor dan membatasi impor. Dengan kata lain barang yang diekspor akan jauh lebih murah dari sudut pandang negara lain. Dalam persaingan dagang internasional, contoh yang paling terasa oleh kita adalah barang – barang dari China. China membatasi nilai tukar mata uangnya, bahkan dengan sengaja dilemahkan, sehingga barang – barang dari Negeri Tirai Bambu tersebut bisa membanjiri pasar internasional. Perekonomian China akhirnya melesat dan ia dapat menguasai perdagangan internasional hingga menyaingi ekonomi Amerika Serikat.

Devaluasi untuk Meringankan Beban Utang

Devaluasi juga bisa dilakukan untuk meringankan beban hutang dalam mata uang negara asal yang jumlahnya sudah disepakati dari awal. Contoh: Indonesia memiliki beban hutang sebesar 1 Triliun Rupiah according to bulan. Lalu katakanlah terjadi devaluasi atau penurunan nilai rupiah sebesar 50%. Meskipun beban bunga yang dibayar tetap sama 1 Triliun, tetapi karena ada devaluasi pembayaran maka cicilannya relatif lebih murah. Artinya nilai sebenarnya dari cicilan tersebut hanya sekitar ½ triliun rupiah. Hal ini tidak cuma berlaku buat hutang negara saja, tetapi termasuk hutang perusahaan atau hutang pribadi dalam mata uang negara asal. Di sisi lain kebijakan ini bisa membahayakan negara yang punya banyak hutang luar negeri yang dipatok dalam mata uang negara asing, karena jika terjadi devaluasi maka negara tersebut malah harus bayar hutang luar negeri lebih besar daripada sebelumnya.

Lalu negara mana saja yang pernah melakukan kebijakan devaluasi?

Jepang: Program ‘Abenomics’ untuk Devaluasi Yen
Jepang adalah salah satu negara yang pernah menerapkan devaluasi. Terlepas dari statusnya sebagai negara maju, industri Jepang dalam 30 tahun terakhir ini terancam oleh perkembangan produk-produk dari China. Hal tersebut membuat nilai tukar Yen Jepang terus menguat bahkan mencapai tingkat tertingginya di tahun 2011-2012. Penguatan ini bukanlah hal yang baik, sebab barang-barang produksi Jepang malah semakin mahal di pasaran dan tidak bisa bersaing dengan barang – barang dari China. Jepang mengambil kebijakan devaluasi di tahun 2012 untuk membantu perekonomian Jepang khususnya industri mesin mereka. Program ini dinamakan Abenomics karena dilakukan atas perintah perdana menteri Jepang saat itu yaitu Shinzo Abe. Devaluasi ini dilakukan dengan cara meningkatkan jumlah Yen di pasar uang. Hanya dalam waktu dua tahun saja, nilai tukar Yen melemah 40% sampai kisaran 110.

Forex, Trading Forex, Broker Forex Indonesia, Broker the Forex market Terpercaya,Trading Forex Indonesia,dealer forex legal di indonesia,dealer foreign exchange prison,FOREXimfSumber: tradingview.Com

Hasilnya, perusahaan besar Jepang seperti Keyence, Yokogawa, dan Panasonic mendapatkan keuntungan besar – besaran karena bisa bersaing harga di pasar Amerika dan Eropa. Perusahaan tersebut bisa ekspor 10 – 30 persen lebih murah di pasar internasional tanpa harus mengurangi keuntungan yang didapatkan perusahaan.

China: Devaluasi Yuan Bangkitkan Industri Dalam Negerinya
Negara kedua yang menerapkan devaluasi adalah China. Devaluasi Yuan oleh financial institution sentral China pernah terjadi di tahun 2015. Bank Sentral China menurunkan nilai tukar Yuan sebesar 3%. Devaluasi ini berhasil membuat produk China lebih menarik karena harganya menjadi murah di pasar internasional. Selain itu, pelemahan Yuan ini membuat barang impor yang masuk ke China menjadi lebih mahal sehingga kebutuhan produksi dan peralatan rumah tangga yang sebelumnya diimpor mau tak mau harus diganti dengan produk lokal buatan China. Dengan begitu, industri dalam negeri China menjadi menggeliat, didorong oleh kondisi harus mandiri dengan produk – produk buatan lokal.

Bagaimana Trader the Forex market Menyikapi Devaluasi Mata Uang
Anda juga harus tahu bahwa kebijakan devaluasi ini tidak selalu sesuai harapan, contohnya seperti yang dialami Inggris di tahun 1967. Devaluasi ternyata malah merugikan karena kebanyakan perusahaan Inggris masih sangat bergantung dengan bahan baku impor, sehingga mereka justru terbebani dengan mahalnya bahan baku impor. Sebuah kebijakan ekonomi itu rupanya tidak selalu berhasil.

Namun hal yang berbeda jika kita melihat dari sudut pandang buying and selling forex. Ketika ada peristiwa seperti di atas, tidak peduli kebijakan tersebut menguntungkan atau merugikan negara, volatilitas pergerakan harganya dapat menjadi peluang yang bagus untuk menghasilkan earnings. Sebagai contoh, kasus devaluasi yang terjadi di Jepang tahun 2011 – 2012 merupakan peluang trading foreign exchange yang sangat luar biasa. Jika Anda mengambil posisi buy di buying and selling forex pada produk USDJPY, pasti Anda akan menghasilkan keuntungan yang besar sekali. Trend-nya naik, artinya setiap ada koreksi turun itu menjadi momen untuk mengambil posisi beli. Perhatikan grafik di bawah. Bayangkan jika Anda mengambil posisi beli dari 80.000 hingga a hundred.000 saja sebesar 1 lot maka Anda menghasilkan income sekitar 20,000 pips atau kurang lebih sebesar 280 juta rupiah.