Wow, Aset Asuransi Tembus Rp883,26 Triliun

Posted on

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan kinerja industri asuransi masih menunjukkan tren positif meski terjadi pandemi Covid-19. Hal itu tercermin dari pertumbuhan aset asuransi mencapai Rp883,26 triliun sampai dengan Agustus 2022.

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Ogi Prastomiyono menyatakan pandemi memberikan dampak yang cukup signifikan kepada industri jasa keuangan, termasuk industri perasuransian. Pasalnya, asuransi terdampak dari segi penerimaan premi hingga segi investasi dari dana yang dikumpulkan oleh perusahaan asuransi.

Kendati demikian, Ogi menyampaikan bahwa secara umum aset asuransi di Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 7,89 persen in line with Agustus 2022, dari periode yang sama tahun lalu bernilai Rp818,sixty four triliun. “Tapi secara umum dapat saya sampaikan bahwa untuk periode 2022 sampai dengan Agustus 2022, kalau kita lihat dari asetnya masih tumbuh 7,89 persen. Per Agustus 2022, mencapai 883,26 triliun, itu mengalami kenaikan Rp64,62 triliun. Di mana posisi pada periode yang sama di tahun 2021 itu Rp818,sixty four triliun,” kata Ogi dalam acara bertajuk ‘Reformasi Industri Asuransi’ di Metro TV, Senin (24/10/2022) petang

Sementara itu, dari segi investasi, perusahaan asuransi secara total baik asuransi jiwa, asuransi umum, maupun perusahaan reasuransi according to Agustus 2022 tumbuh 5,97 persen menjadi Rp673,sixty six triliun, naik Rp37,ninety three triliun. Sejak Januari – Agustus 2022, OJK mencatat pendapatan akumulasi premi tumbuh 1,10 persen secara tahunan (yr-on-year/yoy) menjadi Rp205,nine triliun.

Nilai ini naik Rp4,24 triliun jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021. Capaian positif juga terjadi pada piutang pembiayaan yang naik eight,fifty seven persen yoy menjadi Rp389 triliun, diikuti dengan aset dana pensiun sebesar Rp338 triliun, dan fintech P2P lending mencapai Rp47 triliun.

Adapun, terkait dengan permodalan, Ogi menjelaskan bahwa perusahaan asuransi jiwa dan asuransi umum masing-masing memiliki risk primarily based capital (RBC) sebesar 485,fifty one persen dan 310,08 persen. “Ini berarti bahwa [RBC asuransi] masih di atas ambang threshold one hundred twenty persen sesuai ketentuan OJK,” jelasnya.